Janji Terakhir
By: Widia Astari
Di
salah satu sudut kota Jakarta yang biasanya ramai, siang ini tampak lengang.
Akibatnya, beberapa kendaraan yang lewat selalu melaju dengan
kencang. Tiba tiba dari pembelokan melaju Kawasaki Ninja yang melaju
dengan kencang. Dari arah yang berlawanan, juga sedang melaju kencang mobil sedan berwarna biru metalik yang dikemudikan oleh seorang pria setengah baya yang asyik
menelfon dengan handphone-nya. Tepat di depan rumah sakit, tiba-tiba sang pengemudi mobil kehilangan kendali dan menabrak motor yang
sedang melaju dengan kencang. Pengemudi motor kemudian jatuh terpental ke tanah
dan mengalami pendarahan. Tiba tiba saja jalanan yang tadinya sepi kini
menjadi ramai karena warga sekitar berbondong bondong menyaksikan kecelakaan
maut yang baru saja terjadi.
Beberapa menit kemudian, di sebuah rumah bergaya klasik-modern di kawasan
elit di pusat kota Jakarta.
“Kring kring kriiing.. “ Terdengar bunyi telepon
antik berdering dari ruang keluarga.
“Halo, Selamat siang, Kediaman Aditama disini” jawab si pengangkat telepon.
“Selamat siang, kami dari Kepolisian Resor Jakarta Selatan, bisa kami
bicara dengan keluarga saudara Reynard Setiawan?”
“Ya, saya Vera Aditama, kakak dari Reynard. Maaf, ada apa ya pak?” jawab
ibu yang ternyata bernama Vera itu dengan keragu-raguan.
“Maaf ibu, beberapa menit yang lalu saudara
Reynard Setiawan mengalami kecelakaan sepeda motor di jalan Pondok Indah. Saat
ini beliau dirawat di rumah sakit Pondok Indah.”
“Ma-ma-af, apakah anda yakin pak??!” jawab bu Vera terkejut.
“Maaf ibu, kami yakin bahwa saudara ibu mengalami kecelakaan siang ini. Untuk
saat ini, ia telah ditangani secara profesional, kami berharap ibu segera
datang kemari. Terima kasih, dan selamat siang”
Tiba tiba gagang telepon yang dipegang bu Vera terlepas dan muka bu Vera berubah
menjadi pucat pasi. Dalam keadaan yang tidak menentu, datanglah seorang anak
kecil berusia sekitar 4 tahun menuju bu Vera.
“Mama, mama nggak papa kan?” panggil anak tersebut kepada bu Vera yang
ternyata adalah ibu-nya. Bu Vera hanya terdiam dan tidak menanggapi panggilan
anak sulungnya itu.
“Mama, mama nggak papa kan?” ulang anak itu kepada mamanya. Seakan
tersentak, ibu Vera kemudian menjawab.
“Nggak papa Raissa sayaang, mama nggak kenapa napa kok”
“Dedeknya rewel ya ma?” kata Raissa sambil mengelus elus penuh sayang perut
bu Vera.
“Iya nih sayang, bilangin dong sama dedeknya supaya jangan nakal”
“Dedek,
jangan nakal-nakal ya, kasian dong sama mama” ucap Raissa pada bayi yang
dikandung mama-nya.
“Sayang,
Arriska-nya mana?” Tanya bu Vera.
“Adek
riris udah bobok mama” jawab Raissa.
“Kamu
bobok juga ya sayang. Mama, Papa, Opa sama Oma mau pergi ke rumah
sakit. Oom Reynard nya lagi sakit. Kamu sama bibik tinggal di rumah ya.”
“Kok
oom Reynard ma? Emang oom Reynard-nya kenapa?”
“Gak
kenapa napa kok, sayang. Om
Reynard-nya baik baik aja. Cuma sakit sedikit.” Jawab bu Vera berbohong.
“Oke
mama cantik. Tapi janji jangan lama lama ya.” Ucap Raissa sedikit memaksa.
“Oke Raissa sayang. Tapi sekarang bobok dulu ya”
“Oke
mama sayang. Dadah mama.”
Setelah kepergian Raissa ke kamar, bu Vera segera mengontak suaminya, Pak Panji
yang berada di kantor. Lalu, 30 menit kemudian bu Vera, pak Panji, ayah dan ibu
bu Vera segera menuju ke Rumah Sakit Pondok Indah.
Saat
yang sama di rumah sakit Pondok Indah, seorang suster berjalan tergesa gesa ke
ruang dokter Aryo, seorang dokter spesialis ortopedi.
“Hhh..
Dokter!” panggil suster tadi kepada dokter dengan nafas tersengal sengal.
“Ya,
ada apa?” jawab dokter tersebut dengan santai.
“Ada
pasien yang baru mengalami kecelakaan, dok. Keadaannya parah”
“Parah
bagaimana?”
“Pendarahan
kepala, tulang tangan dan kakinya sepertinya patah”
“Masya
Allah.. separah itukah?”
“Ya,
dokter.”
Kemudian
dokter beranjak dari tempat duduknya. Mengambil stetoskop, memasang jas, dan
segera keluar menuju koridor rumah sakit. Sementara sang suster membuntuti
dokter.
“Dimana
ruangan pasien, sus?”
“Emergency unit kamar 2, dok”
“Oke”
jawab dokter Aryo simpel.
10
menit kemudian, 4 orang yang tak lain bu Vera, pak Panji, Oma dan Opa masuk
dengan tergesa gesa ke dalam rumah sakit dan memerhatikan keadaan di sekitar
mereka. Kemudian salah satu dari mereka menuju ke meja informasi.
“Ada
yang bisa saya bantu ibu?” Tanya petugas informasi.
“Ya.
Dimana kamar pasien kecelakaan yang baru masuk siang ini? Tanya ibu yang
ternyata ibu Vera.
“Oh
itu.. Di emergency unit nomor 2. Ibu
tinggal lurus saja. Trus, kalo udah ketemu plang energency unit, ibuk masuk aja dan cari kamar nomor 2.”
“Makasih
ya sus.” Ucap bu Vera dan segera berjalan tergesa gesa menuju arah yang
ditunjuk suster tadi. Sementara pak Panji, Oma dan Opa mengikuti bu
Vera dari belakang.
Saat
masuk ke emergency unit kamar 2, mereka berempat
terkejut melihat keadaan Reynard yang amat parah. Sementara itu Reynard tampak
tak sadarkan diri. Mereka berusaha saling menenangkan diri. Setelah beberapa
saat, barulah mereka sadar bukan hanya mereka yang ada di ruangan itu.
“Maaf,
apakah bapak-bapak dan ibu-ibu ini keluarga dari Tuan Reynard?” Tanya dokter
Aryo.
“Ya
dokter, bagaimana keadaan adik ipar saya?” Tanya pak Panji.
“Maaf,
saat ini kami hanya bisa mengambil kesimpulan sementara”
“Apa itu dokter?” Tanya Oma.
“Kami
mohon kepada keluarga untuk sabar. Kami menduga tuan Reynard mengalami fraktura atau patah tulang. Dimana fraktura pada
tuan Reynard adalah pada tulang lengan tangan dan tulang paha. Selain itu,
menurut dokter ahli syaraf, tuan Reynard mengalami pembekuan darah pada otak
bagian belakang.”
“Reynard
pasti sehat kembali kan dok?” Tanya bu Vera
“Menurut
diagnosis kami, kemungkinan tuan Reynard untuk sehat sekitar 75%. Tapi semuanya
bergantung kepada yang Kuasa. Semoga
tuan Reynard segera sehat.”
“Amiin”
jawab mereka serempak.
Hari
esoknya, Raissa, Arriska, bu Vera, pak Panji datang kembali ke rumah sakit.
Sedangkan Oma dan Opa semalaman menemani Reynard. Ruangan Reynard telah
dipindahkan ke kamar VIP A dan Reynard sudah sadar.
“Oom
Reynaard” panggil Raissa dan Arriska serempak.
“Haay
sayaang” jawab Reynard
“Oom,
kok kepala, tangan, sama kaki oom Reynard ada putih-putihnya?”
“Itu
perban sayang” jawab bu Vera.
“Emangnya
oom kenapa?”
“Nggak
kenapa napa kok sayang” jawab Reynard
“Ooh,
Rissa tau! Pasti oom habis main lari-larian trus jatuh deh” tebak Arriska.
“Hahaha. Rissa emang keponakan oom yang pinteer.”
“Rissa gitu lho..”
Setelah mengalami perawatan profesional disertai beberapa rangkaian
operasi, tiga bulan kemudian Reynard diizinkan meninggalkan Rumah Sakit Pondok
Indah dan kembali ke rumah. Sementara itu, usia kandungan ibu Vera semakin
mendekati waktu kelahiran. Bahkan waktunya hanya terpaut dua minggu dari saat
Reynard meninggalkan rumah sakit.
Tepat
pada 15 Juni 2001, bu Vera merasakan sesuatu yang aneh pada bayinya. Lalu bu
Vera segera dibawa ke Rumah Sakit Bersalin Bunda untuk menjalani proses
persalinan. Semua anggota keluarga ikut ke Rumah Sakit Bersalin Bunda untuk
mendampingi bu Vera. Termasuk diantara mereka Raissa, Arriska, dan Reynard.
Di
tengah perjalanan, di atas mobil-
“Mama,
mama, dedeknya perempuan kan?” Tanya Raissa.
“Ngaak, dedeknya laki-laki kan ma?” Sambung Rissa.
“Kalian pengennya apa?” jawab bu Vera
“Perempuan!”
“Laki-laki!” jawab mereka serempak.
“Yaudah, kita liat nanti aja ya..” jawab bu Vera.
“Yah, mama…” jawab mereka berdua lesu.
Setelah
kejadian kecil tersebut, mereka hanya diam di mobil dan akhirnya mereka tiba di
RSB Bunda. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, hari itu pukul 2 siang bu
Vera melahirkan anak ketiganya. Ternyata anak ketiganya berjenis kelamin
perempuan.
Pada
malam harinya, mereka kembali pulang ke rumah. Kecuali Oma dan Opa yang tinggal di rumah sakit menemani bu Vera.
Keesokan
paginya, sebelum mereka pergi ke RSB Bunda, terjadi insiden kecil di rumah.
“Bang,
Reynard nggak pergi ke rumah sakit, ya.” Tanya Reynard kepada pak Panji.
“Lho,
kok gitu? Ada apa Ren?”
“Cuma
pusing sedikit kok bang. Nanti kalo udah mendingan Ren susul deh pake mobil”
“Yakin
nih Ren? Kondisi kamu belum bener-bener pulih lho”
“Nggak
papa kok, Ren pasti bakalan nyusul nanti”
“Oh
yaudaah. Abang nggak bisa maksain. Kami pergi dulu ya Ren”
“Iya bang. Hati hati di jalan. Dadah Raissa, dadah Rissa!!”
“Dadah oom Reynard” jawab mereka serempak.
Satu bulan kemudian, ternyata Reynard kembali masuk ke rumah sakit karena
masih ditemukannya darah beku di otak Reynard. Keadaan Reynard semakin parah.
Suatu sore,
“Oom, kapan kita ke dufan lagi sih? Aku kangen main main sama oom di dufan”
ucap Raissa.
“Aku
juga oom” Sambung Rissa.
“Trus,
Arina-nya nggak diajak?” Tanya Reynard.
“Iya
juga dong. Raissa kan sayang sama Arina, sama Rissa, trus sama oom, sama papa,
sama mama, sama opa, dan sama oma.”
“Yaudah
yaudah, oom Reynard janji deh, kalo oom udah sehat lagi, kita bakalan ke Dufan
deh” janji Reynard.
“Janji
ya, om? Kait kelingking!” jawab Raissa.
“Janji! Sama Rissa juga dong, oom”
Setelah kejadian kecil tersebut, mereka terus
saja tertawa tawa hingga mereka lelah. Beberapa
hari setelah mereka bertiga mengikat janji, keadaan
Reynard menjadi sangat kritis dan seluruh usaha terbaik telah diberikan
untuk kesembuhan Reynard. Namun, ternyata Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Pada rabu pagi, tanggal
19 Desember 2001, Reynard menghembuskan nafas terakhirnya. Kepergian Reynard meninggalkan
janji terakhir yang tak mungkin ditepati olehnya lagi.