Wednesday, September 26, 2012

Just Read This Story!


Janji Terakhir
By: Widia Astari

Di salah satu sudut kota Jakarta yang biasanya ramai, siang ini tampak lengang. Akibatnya, beberapa kendaraan yang lewat selalu melaju dengan kencang. Tiba tiba dari pembelokan melaju Kawasaki Ninja yang melaju dengan kencang. Dari arah yang berlawanan, juga sedang melaju kencang mobil sedan berwarna biru metalik yang dikemudikan oleh seorang pria setengah baya yang asyik menelfon dengan handphone-nya. Tepat di depan rumah sakit, tiba-tiba sang pengemudi mobil kehilangan kendali dan menabrak motor yang sedang melaju dengan kencang. Pengemudi motor kemudian jatuh terpental ke tanah dan mengalami pendarahan. Tiba tiba saja jalanan yang tadinya sepi kini menjadi ramai karena warga sekitar berbondong bondong menyaksikan kecelakaan maut yang baru saja terjadi.
Beberapa menit kemudian, di sebuah rumah bergaya klasik-modern di kawasan elit di pusat kota Jakarta.
Kring kring kriiing.. “ Terdengar bunyi telepon antik berdering dari ruang keluarga.
“Halo, Selamat siang, Kediaman Aditama disini” jawab si pengangkat telepon.
“Selamat siang, kami dari Kepolisian Resor Jakarta Selatan, bisa kami bicara dengan keluarga saudara Reynard Setiawan?”
“Ya, saya Vera Aditama, kakak dari Reynard. Maaf, ada apa ya pak?” jawab ibu yang ternyata bernama Vera itu dengan keragu-raguan.
 “Maaf ibu, beberapa menit yang lalu saudara Reynard Setiawan mengalami kecelakaan sepeda motor di jalan Pondok Indah. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit Pondok Indah.”
“Ma-ma-af, apakah anda yakin pak??!” jawab bu Vera terkejut.
“Maaf ibu, kami yakin bahwa saudara ibu mengalami kecelakaan siang ini. Untuk saat ini, ia telah ditangani secara profesional, kami berharap ibu segera datang kemari. Terima kasih, dan selamat siang”
Tiba tiba gagang telepon yang dipegang bu Vera terlepas dan muka bu Vera berubah menjadi pucat pasi. Dalam keadaan yang tidak menentu, datanglah seorang anak kecil berusia sekitar 4 tahun menuju bu Vera.
“Mama, mama nggak papa kan?” panggil anak tersebut kepada bu Vera yang ternyata adalah ibu-nya. Bu Vera hanya terdiam dan tidak menanggapi panggilan anak sulungnya itu.
“Mama, mama nggak papa kan?” ulang anak itu kepada mamanya. Seakan tersentak, ibu Vera kemudian menjawab.
“Nggak papa Raissa sayaang, mama nggak kenapa napa kok”
“Dedeknya rewel ya ma?” kata Raissa sambil mengelus elus penuh sayang perut bu Vera.
“Iya nih sayang, bilangin dong sama dedeknya supaya jangan nakal”
“Dedek, jangan nakal-nakal ya, kasian dong sama mama” ucap Raissa pada bayi yang dikandung mama-nya.
“Sayang, Arriska-nya mana?” Tanya bu Vera.
“Adek riris udah bobok mama” jawab Raissa.
“Kamu bobok juga ya sayang. Mama, Papa, Opa sama Oma mau pergi ke rumah sakit. Oom Reynard nya lagi sakit. Kamu sama bibik tinggal di rumah ya.”
“Kok oom Reynard ma? Emang oom Reynard-nya kenapa?”
“Gak kenapa napa kok, sayang. Om Reynard-nya baik baik aja. Cuma sakit sedikit.” Jawab bu Vera berbohong.
“Oke mama cantik. Tapi janji jangan lama lama ya.” Ucap Raissa sedikit memaksa.
“Oke Raissa sayang. Tapi sekarang bobok dulu ya”
“Oke mama sayang. Dadah mama.”
Setelah kepergian Raissa ke kamar, bu Vera segera mengontak suaminya, Pak Panji yang berada di kantor. Lalu, 30 menit kemudian bu Vera, pak Panji, ayah dan ibu bu Vera segera menuju ke Rumah Sakit Pondok Indah.
Saat yang sama di rumah sakit Pondok Indah, seorang suster berjalan tergesa gesa ke ruang dokter Aryo, seorang dokter spesialis ortopedi.
“Hhh.. Dokter!” panggil suster tadi kepada dokter dengan nafas tersengal sengal.
“Ya, ada apa?” jawab dokter tersebut dengan santai.
“Ada pasien yang baru mengalami kecelakaan, dok. Keadaannya parah”
“Parah bagaimana?”
“Pendarahan kepala, tulang tangan dan kakinya sepertinya patah”
“Masya Allah.. separah itukah?”
“Ya, dokter.”
Kemudian dokter beranjak dari tempat duduknya. Mengambil stetoskop, memasang jas, dan segera keluar menuju koridor rumah sakit. Sementara sang suster membuntuti dokter.
“Dimana ruangan pasien, sus?”
Emergency unit kamar 2, dok”
“Oke” jawab dokter Aryo simpel.
10 menit kemudian, 4 orang yang tak lain bu Vera, pak Panji, Oma dan Opa masuk dengan tergesa gesa ke dalam rumah sakit dan memerhatikan keadaan di sekitar mereka. Kemudian salah satu dari mereka menuju ke meja informasi.
“Ada yang bisa saya bantu ibu?” Tanya petugas informasi.
“Ya. Dimana kamar pasien kecelakaan yang baru masuk siang ini? Tanya ibu yang ternyata ibu Vera.
“Oh itu.. Di emergency unit nomor 2. Ibu tinggal lurus saja. Trus, kalo udah ketemu plang energency unit, ibuk masuk aja dan cari kamar nomor 2.”
“Makasih ya sus.” Ucap bu Vera dan segera berjalan tergesa gesa menuju arah yang ditunjuk suster tadi. Sementara pak Panji, Oma dan Opa mengikuti bu Vera dari belakang.
Saat masuk ke emergency unit kamar 2, mereka berempat terkejut melihat keadaan Reynard yang amat parah. Sementara itu Reynard tampak tak sadarkan diri. Mereka berusaha saling menenangkan diri. Setelah beberapa saat, barulah mereka sadar bukan hanya mereka yang ada di ruangan itu.
“Maaf, apakah bapak-bapak dan ibu-ibu ini keluarga dari Tuan Reynard?” Tanya dokter Aryo.
“Ya dokter, bagaimana keadaan adik ipar saya?” Tanya pak Panji.
“Maaf, saat ini kami hanya bisa mengambil kesimpulan sementara”
“Apa itu dokter?” Tanya Oma.
“Kami mohon kepada keluarga untuk sabar. Kami menduga tuan Reynard mengalami fraktura atau patah tulang. Dimana fraktura pada tuan Reynard adalah pada tulang lengan tangan dan tulang paha. Selain itu, menurut dokter ahli syaraf, tuan Reynard mengalami pembekuan darah pada otak bagian belakang.”
“Reynard pasti sehat kembali kan dok?” Tanya bu Vera
“Menurut diagnosis kami, kemungkinan tuan Reynard untuk sehat sekitar 75%. Tapi semuanya bergantung kepada yang Kuasa. Semoga tuan Reynard segera sehat.”
“Amiin” jawab mereka serempak.
Hari esoknya, Raissa, Arriska, bu Vera, pak Panji datang kembali ke rumah sakit. Sedangkan Oma dan Opa semalaman menemani Reynard. Ruangan Reynard telah dipindahkan ke kamar VIP A dan Reynard sudah sadar.
“Oom Reynaard” panggil Raissa dan Arriska serempak.
“Haay sayaang” jawab Reynard
“Oom, kok kepala, tangan, sama kaki oom Reynard ada putih-putihnya?”
“Itu perban sayang” jawab bu Vera.
“Emangnya oom kenapa?”
“Nggak kenapa napa kok sayang” jawab Reynard
“Ooh, Rissa tau! Pasti oom habis main lari-larian trus jatuh deh” tebak Arriska.
Hahaha. Rissa emang keponakan oom yang pinteer.”
“Rissa gitu lho..”
Setelah mengalami perawatan profesional disertai beberapa rangkaian operasi, tiga bulan kemudian Reynard diizinkan meninggalkan Rumah Sakit Pondok Indah dan kembali ke rumah. Sementara itu, usia kandungan ibu Vera semakin mendekati waktu kelahiran. Bahkan waktunya hanya terpaut dua minggu dari saat Reynard meninggalkan rumah sakit.
Tepat pada 15 Juni 2001, bu Vera merasakan sesuatu yang aneh pada bayinya. Lalu bu Vera segera dibawa ke Rumah Sakit Bersalin Bunda untuk menjalani proses persalinan. Semua anggota keluarga ikut ke Rumah Sakit Bersalin Bunda untuk mendampingi bu Vera. Termasuk diantara mereka Raissa, Arriska, dan Reynard.
Di tengah perjalanan, di atas mobil-
“Mama, mama, dedeknya perempuan kan?” Tanya Raissa.
“Ngaak, dedeknya laki-laki kan ma?” Sambung Rissa.
“Kalian pengennya apa?” jawab bu Vera
“Perempuan!”
“Laki-laki!” jawab mereka serempak.
“Yaudah, kita liat nanti aja ya..” jawab bu Vera.
“Yah, mama…” jawab mereka berdua lesu.
Setelah kejadian kecil tersebut, mereka hanya diam di mobil dan akhirnya mereka tiba di RSB Bunda. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, hari itu pukul 2 siang bu Vera melahirkan anak ketiganya. Ternyata anak ketiganya berjenis kelamin perempuan.
Pada malam harinya, mereka kembali pulang ke rumah. Kecuali Oma dan Opa yang tinggal di rumah sakit menemani bu Vera.
Keesokan paginya, sebelum mereka pergi ke RSB Bunda, terjadi insiden kecil di rumah.
“Bang, Reynard nggak pergi ke rumah sakit, ya.” Tanya Reynard kepada pak Panji.
“Lho, kok gitu? Ada apa Ren?”
“Cuma pusing sedikit kok bang. Nanti kalo udah mendingan Ren susul deh pake mobil”
“Yakin nih Ren? Kondisi kamu belum bener-bener pulih lho”
“Nggak papa kok, Ren pasti bakalan nyusul nanti”
“Oh yaudaah. Abang nggak bisa maksain. Kami pergi dulu ya Ren”
“Iya bang. Hati hati di jalan. Dadah Raissa, dadah Rissa!!”
“Dadah oom Reynard” jawab mereka serempak.
Satu bulan kemudian, ternyata Reynard kembali masuk ke rumah sakit karena masih ditemukannya darah beku di otak Reynard. Keadaan Reynard semakin parah. Suatu sore,
“Oom, kapan kita ke dufan lagi sih? Aku kangen main main sama oom di dufan” ucap Raissa.
“Aku juga oom” Sambung Rissa.
“Trus, Arina-nya nggak diajak?” Tanya Reynard.
“Iya juga dong. Raissa kan sayang sama Arina, sama Rissa, trus sama oom, sama papa, sama mama, sama opa, dan sama oma.”
“Yaudah yaudah, oom Reynard janji deh, kalo oom udah sehat lagi, kita bakalan ke Dufan deh” janji Reynard.
“Janji ya, om? Kait kelingking!” jawab Raissa.
“Janji! Sama Rissa juga dong, oom
Setelah kejadian kecil tersebut, mereka terus saja tertawa tawa hingga mereka lelah. Beberapa hari setelah mereka bertiga mengikat janji, keadaan Reynard menjadi sangat kritis dan seluruh usaha terbaik telah diberikan untuk kesembuhan Reynard. Namun, ternyata Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Pada rabu pagi, tanggal 19 Desember 2001, Reynard menghembuskan nafas terakhirnya. Kepergian Reynard meninggalkan janji terakhir yang tak mungkin ditepati olehnya lagi.